Beranda » Tebing Karst Sangkulirang: Rumah Ribuan Lukisan Prasejarah Terancam Tambang dan Pabrik Semen

Tebing Karst Sangkulirang: Rumah Ribuan Lukisan Prasejarah Terancam Tambang dan Pabrik Semen

Tebing Karst Sangkulirang: Rumah Ribuan Lukisan Prasejarah Terancam Tambang dan Pabrik Semen

Sangkulirang, Kutai Timur – Tebing karst di kawasan Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, menjadi sorotan dunia arkeologi setelah ditemukan lebih dari 2.500 lukisan batu prasejarah yang diperkirakan berusia sekitar 40.000 tahun. Lukisan-lukisan ini menjadikan Sangkulirang sebagai salah satu situs seni gua tertua di dunia—bahkan melampaui usia lukisan gua terkenal di Eropa.

Namun, keberadaan warisan budaya yang tak ternilai ini kini berada di ujung tanduk. Kawasan karst seluas 1,8 juta hektare yang menjadi rumah bagi situs-situs prasejarah tersebut tengah dibidik sebagai lokasi pembangunan pabrik tambang dan semen. Ancaman ini dikhawatirkan akan merusak atau bahkan melenyapkan jejak budaya manusia purba yang tersimpan di bebatuan karst tersebut.

Menteri Kebudayaan Fazli Zon angkat suara terkait isu ini. Ia menegaskan bahwa perlindungan terhadap situs Sangkulirang bukan hanya tanggung jawab lokal, melainkan bagian dari kewajiban nasional dan internasional dalam menjaga warisan budaya dunia.

“Lukisan-lukisan ini adalah jejak sejarah manusia awal di Nusantara. Jika kita kehilangan situs ini, kita kehilangan bagian penting dari identitas dan sejarah peradaban Asia Tenggara,” ujar Fazli dalam pernyataannya, Senin (16/6/2025).

Ia juga menyerukan agar pemerintah daerah, pelaku industri, dan masyarakat bersama-sama menolak segala bentuk eksploitasi yang dapat merusak kawasan karst. Menurutnya, pendekatan konservasi harus diutamakan, sembari membuka peluang pengembangan kawasan menjadi destinasi wisata budaya dan edukasi berkelanjutan.

Kini, tekanan antara nilai ekonomi dan warisan budaya menjadi perdebatan besar di tengah rencana eksploitasi sumber daya alam di wilayah karst. Para pegiat budaya, akademisi, dan aktivis lingkungan mendesak agar pemerintah segera menetapkan kawasan ini sebagai situs cagar budaya nasional dan diajukan ke UNESCO sebagai Warisan Dunia.

Apakah jejak sejarah berumur puluhan ribu tahun akan dikorbankan demi pembangunan industri? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan arah masa depan pelestarian budaya bangsa.

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *