Beranda » IKN: Ambisi Megaproyek yang Belum Menjawab Masalah Nyata

IKN: Ambisi Megaproyek yang Belum Menjawab Masalah Nyata

 Foto : Peresmian  Taman Kesuma Bangsa Ibukota Nusantara

PortalWarta.com — Peresmian Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, menjadi momen bersejarah yang digadang-gadang sebagai awal transformasi besar bangsa. Namun di balik seremoni megah dan jargon “masa depan Indonesia,” muncul pertanyaan krusial: apakah ini solusi nyata atau sekadar proyek ambisius yang menutup mata dari persoalan mendasar?

Perpindahan ibu kota dari Jakarta ke Kalimantan Timur bukan sekadar agenda pembangunan infrastruktur. Ini adalah pernyataan politik yang mengundang berbagai reaksi. Pemerintah menyebut IKN sebagai smart city ramah lingkungan—jawaban atas kemacetan kronis, polusi, hingga penurunan kualitas hidup di Jakarta. Namun, sebagian publik justru mempertanyakan: mengapa bukan Jakarta yang diperbaiki, alih-alih menciptakan kota baru?

Kritik bermunculan dari berbagai kalangan. Banyak yang menilai proyek ini terlalu ambisius dan belum menjawab tantangan utama: ketimpangan sosial, beban anggaran negara, serta risiko terhadap lingkungan dan masyarakat lokal. Biaya pembangunan IKN ditaksir mencapai ratusan triliun rupiah, di tengah kondisi ekonomi yang belum benar-benar pulih. Pertanyaannya, apakah beban ini sebanding dengan manfaatnya?

Sejumlah ekonom bahkan menyebut pemindahan ini sebagai langkah yang tak berpijak pada realitas. Alih-alih fokus pada pembangunan kota baru, mereka menyarankan agar dana besar tersebut dialokasikan untuk memperbaiki Jakarta yang sudah ada—membangun sistem transportasi massal, mengendalikan banjir, dan menekan polusi udara yang kian mengancam kesehatan warganya.

IKN memang menjanjikan ribuan lapangan kerja dan peluang pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Timur. Namun, potensi dampak sosial seperti pergeseran demografi, tekanan terhadap masyarakat lokal, hingga konflik lahan juga tak bisa diabaikan. Belum lagi risiko lingkungan yang mengintai: deforestasi, rusaknya ekosistem, dan potensi bencana ekologis akibat pembangunan masif.

Pertanyaan mendasarnya adalah: apakah prinsip keberlanjutan benar-benar menjadi fondasi IKN, atau sekadar label manis untuk menarik investor dan simpati publik?

Peresmian IKN boleh jadi menjadi simbol ambisi pemerintah. Tapi ambisi tanpa perhitungan matang justru bisa menjadi bumerang. Di tengah pujian dan tepuk tangan, suara kritis tetap harus didengar. IKN bisa menjadi kisah sukses, tapi juga bisa tercatat dalam sejarah sebagai proyek raksasa yang gagal memenuhi janji.

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *