“Memerangkap Kemiskinan di Indonesia: Menerobos Tantangan, Mencari Solusi”

Ilustrasi. bagaimana masyarakat masih banyak yang kelaparan
PortalWarta.com-Kemiskinan di Indonesia seolah menjadi lingkaran setan yang tak pernah benar-benar putus. Meski data menunjukkan penurunan angka kemiskinan dalam satu dekade terakhir, apakah kita benar-benar bisa percaya bahwa masalah ini telah di tangani dengan baik? Dalam 10 tahun, jumlah penduduk miskin berkurang 3,06 juta orang. Tapi di balik angka ini, ada kenyataan pahit bahwa kebijakan yang di terapkan justru memperkuat struktur ketimpangan. Pengentasan kemiskinan yang di klaim sukses hanyalah sekadar angka, bukan solusi nyata.
Kemiskinan di Pedesaan: Siapa yang Bertanggung Jawab?
Penurunan persentase kemiskinan di pedesaan dari 14,17 persen menjadi 11,79 persen dalam 10 tahun terakhir seolah ingin mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Tetapi siapa yang di untungkan? Para elit di pusat kekuasaan dan kota-kota besar, atau masyarakat kecil di pedalaman? Runtuhnya ekonomi lokal di desa akibat eksploitasi sumber daya oleh perusahaan besar adalah fakta yang di abaikan.
Masyarakat pedesaan di paksa menghadapi kemiskinan yang di wariskan dari generasi ke generasi, sementara infrastruktur dasar seperti kesehatan dan pendidikan di biarkan terbengkalai. Apakah dengan menurunkan beberapa persen angka kemiskinan berarti masyarakat pedesaan sudah merdeka dari belenggu ketidakadilan ekonomi?
Perkotaan: Tempat Lahirnya Ketimpangan Baru
Dengan persentase kemiskinan di perkotaan yang turun menjadi 7,09 persen, kita mungkin tergoda untuk percaya bahwa kota-kota besar di Indonesia telah berkembang pesat. Tapi jangan tertipu! Di balik gedung-gedung tinggi dan pusat perbelanjaan megah, kemiskinan perkotaan tetap merajalela. Pengangguran, ketidaksetaraan, dan beban biaya hidup yang tinggi menekan masyarakat urban hingga titik putus.
Sementara itu, para pemodal besar semakin memperkaya diri, meninggalkan masyarakat kecil di tepi kehancuran. Dalam perang melawan kemiskinan, siapa yang menang? Jawabannya jelas: para kapitalis yang terus memanen keuntungan dari sistem ekonomi yang timpang.
Mengatasi kemiskinan dengan kebijakan tambal sulam dan program bantuan langsung hanyalah permainan politik. Masalahnya jauh lebih mendalam: ketidakadilan struktural yang di biarkan tumbuh subur di bawah perlindungan elit penguasa. Pembangunan infrastruktur besar-besaran hanya menambah jurang antara kaya dan miskin, sementara solusi yang di janjikan hanyalah mimpi kosong.
Yang kita butuhkan bukanlah angka-angka yang membutakan. Kita butuh perubahan sistemik yang menempatkan keadilan ekonomi di atas segalanya. Perang melawan kemiskinan tidak bisa di menangkan dengan janji-janji kosong dan program sementara. Rakyat butuh kebijakan yang berpihak pada mereka, bukan sekadar kosmetik ekonomi yang menutupi luka-luka sosial yang semakin menganga.
Masa Depan yang Di pertaruhkan: Apakah Ada Harapan?
Jika kebijakan saat ini tidak segera di rombak, maka kita akan terus terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang tak ada ujungnya. Indonesia berpotensi menjadi negara yang kaya dengan ketimpangan, di mana segelintir orang hidup dalam kemewahan sementara jutaan orang lainnya berkubang dalam kemiskinan. Inilah saatnya untuk menggugat sistem, bukan sekadar menerima ilusi pengentasan kemiskinan yang dangkal.
Untuk berita terbaru, kunjungi portalwarta.com. Jika Anda membutuhkan jasa pembuatan website terpercaya, kunjungi Digi Dingo.