Kontroversi Bauhaus: Budaya Avant-Garde dan Sentimen Nasionalisme Jerman

AfD Serukan Penolakan terhadap Bauhaus: Usaha Kembalikan Tradisi Jerman di Tengah Perayaan 100 Tahun Sekolah Desain
Pada peringatan seratus tahun berdirinya Bauhaus, sekolah desain avant-garde asal Jerman yang terkenal di seluruh dunia, partai sayap kanan Alternative für Deutschland (AfD) mengambil langkah kontroversial dengan menyerukan kepada legislator di Saxony-Anhalt untuk tidak merayakan estetika kosmopolitan Bauhaus. AfD berargumen bahwa pendekatan ini telah mengikis nilai dan tradisi lokal Jerman, yang seharusnya diutamakan.
Tindakan ini langsung mendapat penolakan keras dari berbagai pihak yang melihat Bauhaus sebagai simbol penting perkembangan budaya avant-garde Jerman di era antar perang. Sikap AfD mencerminkan sentimen nasionalis yang kerap dijumpai di banyak negara, di mana mereka tidak hanya menolak Bauhaus, tetapi juga mengkritik upaya pemerintah dalam mendukung bahasa inklusif dan pemasangan bendera LGBTQ+. AfD mengklaim diri sebagai pembela tata bahasa tradisional dan nilai-nilai keluarga, menolak apa yang mereka sebut sebagai pengaruh budaya asing.
Profesor politik Jan-Werner Mueller dari Princeton University menilai langkah ini sebagai bagian dari strategi AfD yang lebih besar, di mana “perang budaya” dijadikan model bisnis politik. Taktik AfD ini dinilai efektif dalam memecah belah opini publik, yang pada akhirnya hanya memperkuat polarisasi dalam masyarakat.
baca juga :Kamala Harris dan Michelle Obama berkampanye di Kalamazoo
Bauhaus, yang didirikan pada 1919 dan berkembang di kota Dessau, dikenal karena desain modern yang menggabungkan keahlian tradisional dengan produksi industri. Sekolah ini telah menjadi magnet bagi banyak seniman, termasuk mereka yang berketurunan Yahudi, dan simbol budaya pasca-perang di Jerman. Namun, kosmopolitanisme yang menjadi ciri khas Bauhaus kini dicap oleh AfD sebagai ancaman terhadap tradisi arsitektur lokal.
Dengan mengambil sikap menolak nilai-nilai modern yang dipopulerkan oleh Bauhaus, AfD berusaha menarik perhatian publik dan memperkuat basis dukungannya. Pendekatan ini mencerminkan usaha mereka untuk “membela budaya Jerman,” termasuk melawan pengaruh desain ikonik seperti karya Ludwig Mies van der Rohe dan kursi cantilever Marcel Breuer. Namun, serangan ini tidak hanya sebatas kritik desain; lebih jauh lagi, ini merupakan bentuk propaganda yang mempertajam kesenjangan budaya di Jerman.
Dalam konteks yang lebih luas, tren serupa juga terlihat di negara lain, seperti upaya pemerintahan Donald Trump yang berusaha menggantikan arsitektur federal AS dengan desain klasik, serta langkah Viktor Orban di Hungaria untuk mengembalikan pusat kota Budapest ke gaya arsitektur pra-perang.
Untuk berita terkini, kunjungi Portalwarta.com. Temukan juga jasa pembuatan website terpercaya yang dapat membantu bisnis Anda tampil menonjol di era digital.