Ancaman Pem Shutdown Nasional: PTI Berjuang untuk Kebebasan Imran Khan di Pakistan

Islamabad, Pakistan – Partai oposisi utama di Pakistan, Pakistan Tehreek-e-Insaf (PTI), mengancam akan melakukan pem shutdown nasional jika perlakuan terhadap pendirinya, mantan Perdana Menteri Imran Khan, yang kini dipenjara sejak Agustus tahun lalu, terus berlanjut.
Ali Amin Gandapur, Ketua Menteri provinsi Khyber Pakhtunkhwa dan tokoh senior PTI, memperingatkan pemerintah federal dan pemerintah provinsi Punjab yang dipimpin oleh partai Liga Muslim-Nawaz (PML-N) di bawah Perdana Menteri Shehbaz Sharif.
Dalam video yang diunggah di media sosial, Gandapur mengungkapkan, “Imran Khan tidak diberi makanan, listrik di selnya diputus, dan dia tidak diizinkan bertemu dengan siapa pun. Jika ini terus berlanjut, kami berencana untuk menutup Pakistan dan menyingkirkan pemerintah ini.”
Pernyataan tersebut muncul setelah saudara perempuan Khan, Aleema dan Uzma, bertemu dengan Khan di Penjara Adiala, Punjab, dan menyampaikan kekhawatiran mengenai perlakuan yang diterima oleh saudara mereka.
Pesan yang diduga berasal dari Khan juga muncul di akun media sosialnya, di mana ia mengklaim bahwa dirinya mengalami “siksaan mental” selama ditahan.
“Saya tidak diizinkan keluar. Dokter, keluarga, dan pengacara saya dilarang menjenguk saya selama beberapa minggu,” tulis Khan.
Sayed Zulfi Bukhari, pemimpin PTI, menyatakan rencana untuk menggelar protes besar-besaran di Peshawar dalam waktu dekat.
Baca Juga :Empat Hari Menuju Pemilu Amerika 2024, Trump dan Harris Berebut Suara
Menurutnya, ini akan menjadi langkah awal mobilisasi di seluruh negeri untuk memastikan pembebasan Khan. Bukhari menegaskan bahwa Khan adalah pemimpin yang berani dan tidak pernah mengeluh tentang kesehatan.
Namun, keluarga Khan mengkonfirmasi bahwa selama dua minggu terakhir, ia tidak diizinkan bertemu orang lain, selnya tanpa listrik, dan ia tidak diperbolehkan bergerak atau berolahraga.
Makanan yang diberikan pun dianggap tidak mencukupi. Setelah Khan dipecat pada 2022 melalui mosi tidak percaya, ia dihadapkan pada berbagai tuntutan hukum, termasuk pengkhianatan dan terorisme. .
Meskipun Khan mendapatkan jaminan dan dibebaskan dalam beberapa kasus, ia masih berada di balik jeruji, yang menurut PTI adalah strategi untuk menghalangi kembalinya dia ke kekuasaan.
PTI menuduh pemerintah dan militer Pakistan melakukan kampanye untuk mempertahankan Khan di penjara, sementara pemerintah dan militer, yang dulu mendukung Khan, membantah tuduhan tersebut. PTI terus menyuarakan kekhawatiran akan keselamatan Khan di penjara, bahkan menyatakan bahwa nyawanya terancam.
Dukungan terhadap Khan juga datang dari mantan istrinya yang tinggal di London, Jemima Goldsmith, yang menyampaikan lewat media sosial tentang kondisi Khan yang semakin mengkhawatirkan.
Ia menyoroti bahwa Khan kini berada dalam isolasi total tanpa akses ke dunia luar. Laporan dari kelompok kerja hak asasi manusia PBB juga menyerukan pembebasan segera Khan, menyebut penahanannya sebagai pelanggaran hukum internasional.
Pemerintah juga mengeluarkan perintah untuk melarang pengunjung di Penjara Adiala dengan alasan “keamanan” menjelang penyelenggaraan KTT Shanghai Cooperation Organisation (SCO) di Islamabad.
PTI sebelumnya berencana menggelar protes di dekat gedung parlemen untuk menuntut pembebasan Khan.
Namun, setelah tim medis pemerintah memeriksa Khan dan melaporkan bahwa kondisinya baik, protes tersebut dibatalkan.
Sementara itu, analis politik menilai ancaman PTI untuk melakukan pem shutdown nasional mencerminkan kebingungan strategi. Menurut beberapa pengamat, meski para pemimpin PTI berusaha memainkan kartu korban, situasi ini tampaknya lebih untuk memotivasi anggota partai.
Gandapur dianggap sedang berusaha menjaga relevansi di tengah ketidakpastian dalam PTI, meskipun banyak yang meragukan efektivitas langkah-langkah yang diambil partai ini.
Refrensi : www.aljazeera.com