Gonjang-Ganjing Matahari Kembar di Pemerintahan Prabowo: SBY Ingatkan Bahaya Dualisme Kekuasaan

Jakarta,Portalwara.com – Pemerintahan Presiden Terpilih Prabowo Subianto mulai diterpa angin kencang bahkan sebelum resmi dilantik. Isu “matahari kembar” atau dualisme kepemimpinan kembali mencuat, menyusul dinamika internal koalisi besar yang mengusungnya.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Sejumlah pengamat menyoroti adanya figur-figur kuat di lingkaran dalam kekuasaan yang tampaknya ingin mengambil peran lebih besar dari seharusnya. Hal ini pun memicu respons dari berbagai tokoh nasional, termasuk Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang menegaskan bahwa pemerintahan yang stabil hanya bisa berjalan dengan satu pemimpin yang jelas.
Baca juga : DOKTORIZIN.COM Berikan Bantuan Izin Usaha Gratis Kepada 100 UMKM Selama Bulan Puasa
“Tidak boleh ada matahari kembar dalam pemerintahan. Dalam sistem presidensial, yang memimpin adalah presiden, bukan yang lain,” ujar SBY dalam sebuah forum diskusi politik di Cikeas, Rabu (23/4).
Pernyataan SBY tersebut diyakini sebagai respons atas sinyal-sinyal kuat dari dalam koalisi pendukung Prabowo yang menunjukkan adanya kekuatan politik lain yang hendak memainkan peran sentral di luar presiden terpilih. Beberapa analis menilai, ini merupakan kritik halus terhadap manuver politik yang dilakukan oleh sejumlah partai besar, termasuk sinyal dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar alias Cak Imin, sebelumnya sempat menyampaikan pesan bernuansa politis kepada para menteri di kabinet pada saat di acara halal bihalal.
“Tadi Pak Presiden juga menelepon saya menyampaikan selamat halal bihalal hari ini, dan meminta kepada sesama menteri untuk terus merapatkan barisan,” ujar Cak Imin .
Walau pernyataan tersebut terdengar normatif, banyak yang menafsirkan bahwa itu adalah sinyal bagi para loyalisnya untuk mempersiapkan posisi tawar di pemerintahan mendatang — yang bisa saja berujung pada dinamika kekuasaan yang tidak sehat jika tidak dikelola dengan baik.
Makna Tersirat dan Bahaya Fragmentasi
Makna tersirat dari seruan Cak Imin adalah konsolidasi kekuatan politik di tengah struktur pemerintahan baru. Namun, bila konsolidasi ini tidak berada dalam satu komando Presiden Prabowo, maka potensi munculnya “matahari kembar” semakin nyata.
Pengamat politik dari Indikator Prof. burhanudin muhtadin mengingatkan, “Kalau masing-masing kekuatan politik dalam koalisi merasa berhak mengatur arah pemerintahan, maka kekacauan bukan hanya di kabinet, tapi bisa menjalar ke birokrasi dan pelayanan publik.”
Situasi ini menjadi ujian awal bagi kepemimpinan Prabowo. Apakah beliau akan mampu menunjukkan ketegasan sebagai pemimpin tunggal negara, atau justru terjebak dalam tarik-menarik kepentingan internal yang bisa mengancam stabilitas pemerintahan di masa depan..