Elektabilitas Menurun, Aulia – Rendi Tetap Jadi Kandidat Terkuat di Pilkada Ulang Kukar

Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mendiskualifikasi pasangan calon (paslon) nomor urut 1, Edi Damansyah – Rendi Solihin, telah mengubah secara drastis peta elektoral di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Dalam keputusan yang dibacakan awal Maret 2025, MK menyatakan bahwa Edi Damansyah tidak memenuhi syarat sebagai calon karena permasalahan periodisasi masa jabatan. Akibatnya, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kukar menetapkan Pemungutan Suara Ulang (PSU) pada 19 April 2025, dengan mengganti Edi Damansyah dengan dr. Aulia Rahman Basri sebagai calon bupati berpasangan dengan Rendi Solihin.
Pergantian ini telah menimbulkan dinamika baru, khususnya terkait elektabilitas pasangan ini di sejumlah wilayah strategis Kukar.
Data sebelumnya menunjukkan bahwa pasangan Edi – Rendi berhasil mengumpulkan 259.489 suara (68,7%) dari total suara sah (377.765 suara), mengungguli pasangan lain secara telak:
- Dendi – Alif: 83.513 suara (22,1%)
- Ayl – Aza: 34.763 suara (9,2%)
Namun, dengan hilangnya figur Edi Damansyah, yang memiliki popularitas tinggi dan basis loyalis kuat di sejumlah wilayah strategis Kukar, tren elektoral menunjukkan potensi redistribusi suara signifikan di Pilkada Ulang.
Baca Juga : hasil survei pilgub kaltim
Masuknya dr. Aulia Rahman Basri sebagai pengganti Edi menciptakan ketidakpastian di akar rumput. Walau tetap berpasangan dengan Rendi Solihin, hilangnya figur Edi yang telah dikenal luas dan memiliki rekam jejak birokrasi panjang menimbulkan kekhawatiran tentang kontinuitas kepemimpinan.
- Elektabilitas pasangan Aulia – Rendi menurun 13–18% di wilayah hulu dan pesisir dibandingkan hasil sebelumnya.
- Tingkat pengenalan terhadap dr. Aulia hanya berada di angka 42% secara kabupaten, dengan tingkat kepercayaan (trust level) hanya 35%.
- Di sisi lain, Dendi – Alif menunjukkan peningkatan elektabilitas 6–10% di kawasan Hulu.
Kukar Hulu (Sebulu, Muara Kaman, Kenohan, Tabang)
Daerah ini merupakan kantong suara loyal Edi Damansyah pada Pilkada sebelumnya. Dengan tingkat pengenalan terhadap dr. Aulia Rahman Basri yang masih terbatas, terjadi potensi pelemahan dukungan, ditandai dengan mulai berpindahnya simpati masyarakat kepada pasangan lain, terutama Dendi – Alif.
Wilayah Pesisir (Muara Jawa, Samboja, Anggana)
Ketergantungan pada figuritas pemimpin yang berorientasi pembangunan pesisir menjadikan absennya Edi sebagai kehilangan representasi harapan warga. Tim pemenangan dr. Aulia kini menghadapi tantangan untuk menyesuaikan narasi kampanye dengan konteks lokal pesisir.
Kukar Tengah dan Tenggarong
Tenggarong sebagai ibu kota dan pusat kegiatan ekonomi-politik Kukar sebelumnya menjadi “benteng” elektoral Edi – Rendi. Tingkat keraguan pemilih terhadap kapabilitas dr. Aulia meningkat, khususnya dari segmen ASN, pelaku usaha, dan generasi muda.
Informasi lengkap seputar pendirian PT, UMKM, hingga pengurusan HAKI tersedia di DoktorIzin.com – Konsultan Legalitas Terpercaya.
Kota Bangun dan sekitarnya
Menariknya, wilayah ini menunjukkan tingkat penerimaan awal yang cukup terhadap sosok dr. Aulia, khususnya karena aktivitas sosial dan jaringan kesehatan yang pernah ia kelola. Namun, ini masih belum cukup untuk mengembalikan kekuatan suara mendekati 68,7% suara Edi – Rendi sebelumnya.
menunjukkan dinamika signifikan dalam konstelasi pemilihan ulang di Kukar. Elektabilitas pasangan nomor urut 01, Aulia Rahman Basri – Rendi Solihin, yang sebelumnya mengalami penurunan pasca-pergantian Edi Damansyah, kini menunjukkan tren pemulihan. Berdasarkan Survei dari 10 kecamatan prioritas, tingkat keterpilihan pasangan ini kini berada di kisaran 56%. Penguatan ini disebut sebagai hasil dari konsolidasi birokrasi, pengaktifan jaringan relawan lama Edi – Rendi, serta pendekatan personal yang intensif kepada pemilih akar rumput, terutama di Tenggarong dan sebagian wilayah Kukar Hulu.
Sementara itu, pasangan Dendi – Alif Turiadi terus menunjukkan tren penguatan dan kini diproyeksikan memperoleh elektabilitas di kisaran 31%. Pasangan ini berhasil menarik perhatian swing voters dan pemilih yang kecewa atas pergantian mendadak figur Edi Damansyah. Basis kekuatan mereka masih bertumpu pada pemilih rasional, segmen muda, serta kelompok masyarakat yang kritis terhadap struktur birokrasi. Namun, di beberapa wilayah, laju penguatan elektabilitas mulai stagnan, seiring tantangan logistik dan minimnya representasi tokoh lokal.
Adapun pasangan Ayl – Aza tetap berada di posisi bawah dengan elektabilitas yang stagnan di angka 13%. Meskipun mereka memiliki jaringan kuat di pesantren dan dukungan dari keluarga besar , penetrasi ke pemilih umum masih sangat terbatas.
Kesimpulan :
- Pergantian Edi ke dr. Aulia Rahman Basri telah memecah kekuatan elektoral sebelumnya, dengan potensi kehilangan 15–20% suara di wilayah Hulu dan Pesisir.
- Tim pemenangan dr. Aulia – Rendi perlu segera meningkatkan penetrasi komunikasi politik berbasis kedekatan sosial dan program konkret, terutama di wilayah pemilih loyal Edi yang kini mengalami keraguan.
- Pasangan Dendi – Alif memiliki peluang menjadi kompetitor serius dalam PSU ini jika berhasil menjaga momentum dan memperluas segmentasi isu kampanye (ekonomi, tata kelola pemerintahan, dan infrastruktur).
- Ke depan, akan semakin penting mengamati dinamika opini publik di minggu tenang, karena basis rasional pemilih Kukar menunjukkan respons tinggi terhadap faktor integritas, rekam jejak, dan konektivitas figur dengan daerah.