Beranda » Kemungkinan Golput Meningkat di Samarinda, TPS Sepi di Pagi Hari

Kemungkinan Golput Meningkat di Samarinda, TPS Sepi di Pagi Hari

Golput meningkat di Samarinda, Kalimantan Timur. TPS sepi hingga pukul 08.35 WITA, warga bingung memilih antara kotak kosong atau pasangan Andi Harun dan Saefudin Zuhri.

Samarinda, Kalimantan Timur – Fenomena golongan putih (Golput) tampaknya kian menguat pada pemilihan kali ini. Beberapa tempat pemungutan suara (TPS) di Samarinda terlihat lengang hingga pukul 08.55 WITA. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan penyelenggara pemilu, mengingat partisipasi masyarakat merupakan kunci legitimasi demokrasi.

Beberapa warga yang ditemui mengaku masih bimbang menentukan pilihan. Ketidakpastian tersebut menjadi alasan utama sebagian besar dari mereka belum datang ke TPS. “Saya bingung mau pilih siapa. Belum ada yang benar-benar meyakinkan,” ujar seorang warga Samarinda yang enggan disebutkan namanya.

Selain kebingungan memilih, faktor lain yang memicu rendahnya antusiasme pemilih adalah ketiadaan “serangan fajar.” Salah satu warga mengungkapkan bahwa tidak ada insentif seperti pada pemilihan legislatif Februari lalu. “Dulu, ada yang kasih uang pagi-pagi. Sekarang, tidak ada,” kata seorang warga dengan nada bercanda.

Selain itu, kebingungan juga terjadi terkait pilihan yang tersedia. Beberapa warga mengaku ragu untuk memilih antara kotak kosong atau pasangan calon nomor urut 2, Andi Harun dan Saefudin Zuhri. “Jujur saja, sulit menentukan pilihan. Kotak kosong atau pilih pasangan yang ada, saya bingung,” ungkap seorang warga lainnya.

Namun demikian, meskipun banyak yang merasa bingung dan kurang puas dengan pilihan yang ada, harapan agar masyarakat tetap menggunakan hak pilihnya tetap menjadi fokus. Pemilu kali ini, yang hanya berlangsung lima tahun sekali, diharapkan dapat membawa partisipasi aktif dari masyarakat, meskipun situasi ini sedikit lebih sulit dibandingkan pemilu sebelumnya.

Selain itu, ada juga yang beranggapan bahwa Andi Harun tetap layak dipilih, mengingat pesatnya pertumbuhan Samarinda dalam beberapa tahun terakhir. “Kalau sampai yang terpilih adalah kotak kosong, artinya nanti yang memimpin Samarinda adalah orang dari pusat yang belum tentu tahu apa yang dibutuhkan kota ini,” ujar salah seorang warga. Pendapat ini mencerminkan kekhawatiran akan keterputusan antara pemimpin daerah dan kebutuhan lokal, yang bisa berdampak pada kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Samarinda.

Kondisi ini menjadi tantangan bagi penyelenggara pemilu di Kalimantan Timur, khususnya di Samarinda. Mereka harus berupaya keras meningkatkan kesadaran pemilih untuk datang ke TPS dan menyalurkan hak pilihnya. Hingga berita ini diturunkan, belum ada langkah konkret yang diambil untuk meningkatkan partisipasi pemilih.

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *