COP29 Azerbaijan: Apa yang Dipertaruhkan di KTT Iklim Global 2024?
![An activist demonstrates for climate justice and a ceasefire in Gaza at the UN Climate Summit on November 11, 2024 in Baku [Rafiq Maqbool/AP Photo]](https://portalwarta.com/wp-content/uploads/2024/11/AP24316378520647-1731327397.webp)
Seorang aktivis melakukan demonstrasi untuk keadilan iklim dan gencatan senjata di Gaza pada KTT Iklim PBB pada 11 November 2024 di Baku [Rafiq Maqbool/AP Photo]
Portalwarta.com – COP29 Azerbaijan: Apa yang Dipertaruhkan di KTT Iklim Global 2024
KTT Iklim PBB COP29 telah dimulai di ibu kota Azerbaijan, Baku, dengan ribuan delegasi dunia berkumpul untuk melakukan perundingan tentang krisis iklim. Acara dua minggu ini diharapkan akan menjadi ajang untuk menyepakati langkah-langkah konkret dalam mengatasi perubahan iklim.
Namun, pertemuan ini tidak lepas dari kontroversi. Aktivis lingkungan, termasuk Greta Thunberg, menyebut konferensi ini sebagai “konferensi greenwash” karena negara tuan rumah, Azerbaijan, memiliki ekonomi yang bergantung pada bahan bakar fosil. Selain itu, pemilu yang mengarah pada pemilihan kembali Donald Trump sebagai presiden AS membuat ketegangan semakin meningkat, karena Trump berencana keluar dari Kesepakatan Paris untuk kedua kalinya.
Baca Juga :Tambang Ilegal dan Calon Penguasa Daerah: Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?
Pentingnya pendanaan transisi energi hijau menjadi isu utama dalam pertemuan ini. Negara-negara berkembang, yang menginginkan dukungan finansial lebih besar, menuntut negara-negara kaya untuk memenuhi janji mereka memberikan dana $100 miliar per tahun yang pernah dijanjikan sejak 2009. Namun, dana yang dibutuhkan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca secara global diperkirakan lebih dari $2 triliun per tahun pada 2030.

Sebagai bagian dari agenda COP29, negara-negara peserta diharapkan akan memperbarui Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional (NDC) mereka. Setiap negara harus menetapkan target penurunan emisi gas rumah kaca yang lebih ambisius untuk mencapai tujuan Perjanjian Paris dalam membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celcius.
Sejak COP28 yang lalu di Dubai, beberapa kemajuan telah tercapai, termasuk pengakuan global untuk “beralih dari bahan bakar fosil.” Namun, belum ada kemajuan signifikan dalam pencapaian target energi bersih pada 2050. Pembahasan di COP29 kali ini diharapkan dapat memuluskan perjanjian-perjanjian penting untuk menghadapi tantangan besar perubahan iklim di masa depan.
Di COP28, janji besar yang biasanya menjadi sorotan tidak dimasukkan dalam agenda tahun ini. Meskipun tidak ada alasan resmi yang diberikan, isu terkait bahan bakar fosil mungkin menjadi tantangan besar, mengingat minyak dan gas menyumbang sekitar setengah dari ekonomi Azerbaijan dan 90 persen ekspor negara tersebut.
Baca Juga : Asap Memuncak di Lahore Pakistan, Ratusan Orang Dirawat
Selain itu, sebuah kelompok advokasi berhasil merekam Elnur Soltanov, wakil menteri energi Azerbaijan dan CEO COP29, yang menawarkan untuk memfasilitasi pembicaraan mengenai kesepakatan baru bahan bakar fosil sebelum pertemuan tersebut. Hal ini semakin menambah kontroversi seputar masalah iklim yang akan dibahas.
Pemilihan Donald Trump sebagai Presiden AS tidak akan langsung memengaruhi agenda COP28, namun bisa berdampak pada implementasi perjanjian setelah ia dilantik pada Januari 2025. Trump sebelumnya menarik AS keluar dari Perjanjian Paris, namun Presiden Joe Biden mengembalikannya pada 2021.
Sebagai negara penghasil emisi gas rumah kaca terbesar kedua setelah China, keluar dari kesepakatan Paris bisa berpengaruh besar terhadap target-target yang disepakati di COP29. Selain itu, Trump sering meragukan keberadaan perubahan iklim dan meremehkan dampaknya.

Menurut Copernicus Climate Change Service Uni Eropa, 2024 diperkirakan menjadi tahun terpanas dalam catatan sejarah. Tahun ini juga dihiasi dengan berbagai peristiwa cuaca ekstrem, seperti Badai Milton yang melanda Florida dan menewaskan sedikitnya 18 orang, yang dihubungkan dengan perubahan iklim.