Beranda » Transformasi Hello Kitty: Perubahan di Bawah CEO Termuda Jepang

Transformasi Hello Kitty: Perubahan di Bawah CEO Termuda Jepang

Hello Kitty, yang diciptakan pada 1 November 1974, kini merayakan ulang tahunnya yang ke-50.

Portalwarta.com –Hello Kitty, yang diciptakan pada 1 November 1974, kini merayakan ulang tahunnya yang ke-50. Meskipun menjadi salah satu kreasi paling dicintai di Jepang, Sanrio, perusahaan di balik karakter ini, mengalami perjalanan bisnis yang berliku dengan berbagai tantangan finansial.

Hello Kitty dikenal sebagai franchise media dengan pendapatan tertinggi kedua di dunia setelah Pokémon, melampaui karakter ikonik seperti Mickey Mouse dan Star Wars.

Menariknya, saat kunjungan kenegaraan Jepang ke Inggris, Raja Charles mengucapkan selamat ulang tahun kepada Hello Kitty, menegaskan popularitasnya di seluruh dunia.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Sanrio menghadapi kesulitan keuangan akibat menurunnya minat terhadap Hello Kitty.

Meskipun pernah mengalami lonjakan penjualan pada tahun 1999 dan 2014, pertumbuhan tersebut tidak berkelanjutan. Menurut Yasuki Yoshioka dari perusahaan investasi SMBC Nikko, performa Sanrio bagai rollercoaster, penuh naik turun.

Baca juga :Dinamika Politik Indonesia: Tantangan Money Politik dalam Pilkada

Portalwarta.com – Pada tahun 2020, Tomokuni Tsuji, cucu pendiri Sanrio, mengambil alih sebagai CEO di usia 31 tahun, menjadi CEO termuda di perusahaan terdaftar Jepang.

Dia memutuskan untuk mengubah strategi pemasaran Sanrio dengan meningkatkan pengenalan karakter lain, meskipun ini berarti Hello Kitty kehilangan posisi sebagai karakter paling populer di perusahaan.

Kini, karakter Cinnamoroll, seekor anjing putih bermata biru, menggeser posisi tersebut.

Sanrio juga mulai memperkenalkan karakter baru seperti Aggretsuko, panda merah yang marah, dan Gudetama, telur malas yang mencerminkan realitas hidup yang gelap.

Strategi baru Sanrio termasuk meningkatkan pemasaran di luar negeri dan lebih agresif dalam menangani produk palsu.

Mereka kini memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mendeteksi dan menghapus produk palsu.

Kerja sama dengan merek besar seperti Starbucks dan LA Dodgers juga menjadi kunci dalam strategi pemasaran mereka.

Walau berada dalam budaya yang menghargai senioritas, Tsuji berhasil menghadapi tantangan dan menegaskan visinya untuk perusahaan.

Setelah sekitar dua tahun di bawah kepemimpinannya, Sanrio kembali meraih profitabilitas, dengan harga saham yang meningkat sepuluh kali lipat sejak 2020, dan valuasi pasar perusahaan mencapai lebih dari satu triliun yen.

Di luar urusan bisnis, sebuah pernyataan mengejutkan datang dari direktur pengembangan bisnis Sanrio, Jill Koch, yang menyebut bahwa Hello Kitty bukanlah kucing, melainkan seorang gadis sekolah dari Inggris.

Pernyataan ini menimbulkan kehebohan di media sosial di kalangan penggemar luar negeri.

Tsuji mengklarifikasi bahwa Hello Kitty adalah siapa pun yang diinginkan penggemarnya untuk menjadi, menggambarkan karakter ini sebagai simbol universal.

Meskipun asal-usulnya masih menyimpan misteri, Hello Kitty tetap menjadi ikon yang dicintai, siap menghadapi masa depan dengan semangat baru.

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *