Kamala Harris dan Michelle Obama berkampanye di Kalamazoo

Kamala Harris dan Michelle Obama, Kalamazoo, Michigan, 26 Oktober 2024.
Di dalam sebuah teater komunitas kecil di pinggiran kota Detroit, Wakil Presiden Kamala Harris berbagi kisah hidupnya kepada pemilih yang masih ingin lebih mengenalnya. Pertanyaan yang diajukan padanya, tentang siapa sebenarnya Kamala Harris, adalah hal yang biasanya ditanyakan kepada calon baru. “Berapa lama waktu kita?” canda Harris, menunjukkan betapa singkatnya waktu yang dimilikinya untuk memperkenalkan diri dan misinya bagi Amerika.
Waktu memang sangat terbatas bagi Harris. Setelah Presiden Joe Biden mengundurkan diri dari pemilihan, Harris memulai kampanye yang padat untuk mengumpulkan dukungan publik. Dalam kurun waktu yang hanya tiga bulan sejak pencalonannya, Harris harus bekerja keras menjangkau pemilih yang ingin tahu siapa dia dan seperti apa gaya kepemimpinannya.
Harris sering menghadiri acara besar dengan ribuan peserta, menyampaikan pidato tentang visi dan misinya. Namun, di momen-momen terakhir kampanye ini, dia mulai mengubah pendekatan dengan menghadiri acara yang lebih intim—seperti diskusi di gereja, pelayanan jemaat kecil, dan teater komunitas. Di lingkungan seperti ini, ia bisa berbicara lebih dekat, membagikan cerita hidupnya sebagai istri, ibu, dan tokoh masyarakat yang peduli pada kebersamaan dan masa depan bangsa.
baca juga :Raja Charles III Hadapi Seruan Kolonialisme di KTT
Seperti yang dikatakan Harris kepada audiens di Michigan, “Saya hidup penuh warna. Saya adalah istri, ibu, kakak, dan seseorang yang mencintai kegiatan sehari-hari, termasuk memasak.” Walaupun terbilang baru di panggung politik nasional, karir panjangnya di California sebagai jaksa dan jaksa agung negara bagian memberikan Harris pengalaman kepemimpinan yang dia bawa ke Washington.
Kamala Harris dan Michelle Obama, Kalamazoo, Michigan, 26 Oktober 2024.
Kevin Madden, seorang analis politik yang terlibat dalam tiga kampanye presiden, menyebut Harris sebagai “sosok yang cukup baru dalam politik nasional.” Membangun profil nasional yang kuat memerlukan waktu yang lama, katanya. Sementara itu, lawannya, Donald Trump, sudah dikenal luas bahkan sebelum masuk ke politik karena popularitasnya sebagai bintang televisi.
Pendeknya waktu membuat tim Harris harus membuat keputusan penting: ke mana ia akan pergi, siapa yang akan diajak bicara, dan isu apa yang ditekankan. Untuk Harris, kampanye ini dipecah dalam beberapa fase: mengamankan nominasi, memperkenalkan diri ke publik, hingga menekankan filosofi kepemimpinannya, terutama dalam bidang ekonomi. Harris juga tetap menjalankan tugas sebagai wakil presiden, menangani bencana alam dan menunjukkan kemampuannya dalam urusan keamanan nasional.
Dengan didampingi oleh Liz Cheney, seorang Republikan yang terkenal karena kritiknya terhadap Trump, Harris berharap dapat meraih hati pemilih yang mengkhawatirkan masa depan demokrasi Amerika. Dukungan Cheney juga dimaksudkan untuk menjangkau pemilih Republikan yang merasa tidak nyaman dengan pemerintahan Trump sebelumnya, terutama setelah upaya Trump menggagalkan hasil pemilu 2020.
Di momen-momen akhir kampanyenya, Harris menegaskan kontrast yang jelas antara dirinya dan Trump. Ia akan kembali ke Ellipse, tempat dekat Gedung Putih di mana kerusuhan 6 Januari 2021 terjadi, untuk mengingatkan rakyat akan pentingnya demokrasi dan stabilitas politik. Dengan begitu, Harris berusaha menciptakan sebuah momen simbolis yang kuat, menyerukan persatuan dan pengabdian demi masa depan bangsa yang lebih baik.
baca juga :Kekalahan Mengejutkan Bagi LDP di Pemilu Jepang 2024, Koalisi Lemah?
Untuk informasi jasa pembuatan website terpercaya, kunjungi DigiDingo.my.id.
Untuk berita terbaru, kunjungi PortalWarta.com.
(US/FU)