Raja Charles III Hadapi Seruan Kolonialisme di KTT

Raja Charles III memeriksa pasukan polisi Samoa di Bandara Internasional Faleolo, Faleolo, Samoa, Rabu (23/10/2024). (Foto: Reuters/Toby Melville)
Portalwarta.com – Raja Inggris, Charles III, menghadapi tekanan untuk memperhitungkan sejarah kolonial negaranya. Hal ini terjadi saat KTT Persemakmuran pada 25 Oktober 2024, di Samoa, yang seharusnya berlangsung akrab, berubah menjadi perdebatan sengit mengenai warisan perbudakan dan kolonialisme.
Pertemuan yang dihadiri oleh para pemimpin dari 56 negara anggota Persemakmuran, sebagian besar negara bekas jajahan Inggris, seharusnya menunjukkan relevansi blok tersebut. Namun, perdebatan mengenai masa lalu menggelayuti KTT ini, menggantikan diskusi tentang isu-isu penting seperti perubahan iklim.
Negara-negara di Afrika, Karibia, dan Pasifik menyerukan agar Inggris dan negara-negara Eropa lainnya memberikan kompensasi finansial untuk perbudakan atau setidaknya melakukan perbaikan politik. Mereka berharap KTT ini berkomitmen untuk membahas keadilan reparatif, yang sejauh ini dihindari oleh pemerintah Inggris, terutama di tengah krisis ekonomi.
baca juga :Rakernas II KKK: Deiby Pangemanan Berkomitmen untuk Bersatu
Perdana Menteri Bahama, Philip Davis, menyatakan pentingnya dialog tentang kesalahan sejarah ini. “Keadilan reparatif bukanlah percakapan yang mudah, tetapi sangat penting,” katanya. Davis menambahkan bahwa dampak perbudakan masih terasa dalam komunitas dan perjuangan untuk keadilan belum selesai.
Meski begitu, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menolak permintaan untuk membayar reparasi, dan tidak ada permintaan maaf yang diajukan pada pertemuan tersebut. Keluarga kerajaan juga menghadapi seruan untuk meminta maaf atas keuntungan yang didapat dari perdagangan budak.
Rancangan deklarasi KTT yang menyerukan perdebatan tentang kolonialisme memicu ketegangan, dan negara-negara maju berusaha memperhalus bahasa dalam deklarasi akhir. Davis menekankan, “Seruan untuk reparasi bukan hanya soal uang, tetapi juga tentang pengakuan dampak dari eksploitasi selama berabad-abad.”