Serangan Jihadis di Bandara Mali Guncang Pemerintahan Junta

(Foto. BBC.com/ Informasi Serangan Jihadis dibandara Mali)
Serangan mengejutkan mengguncang Mali ketika kelompok jihadis menyerang kompleks bandara internasional di luar ibu kota, Bamako, Selasa pagi lalu. Dalam video yang beredar di media sosial, terlihat bendera Al-Qaeda berkibar di atas gedung bandara, sementara para militan beraksi di sekitar terminal VIP dan membakar mesin jet kepresidenan.
Tidak hanya itu, pusat pelatihan gendarmerie di Faladié juga menjadi sasaran serangan. Ledakan dan tembakan terdengar di seluruh wilayah tersebut, mengganggu ketenangan pagi hari. Meski pihak berwenang tidak memberikan rincian jumlah korban, dilaporkan sedikitnya 60 hingga 100 orang tewas, termasuk sejumlah kadet gendarmerie.
Ancaman yang Terus Berkembang
Ini bukan pertama kalinya Bamako mengalami serangan seperti ini. Pada 2015, 20 nyawa melayang dalam serangan di Hotel Radisson Blu. Begitu pula pada 2020, Kolonel Assimi Goïta menggulingkan pemerintah terpilih dengan alasan keamanan yang tidak terkendali. Namun, hingga kini, junta yang di pimpinnya masih kesulitan mengendalikan situasi.
Meski telah merekrut pasukan bayaran Rusia dari grup Wagner, yang kini berganti nama menjadi Corps Africa, situasi keamanan di Mali tidak banyak berubah. Kekerasan masih meluas, terutama di utara dan tengah negeri, di mana perebutan lahan dan air antara komunitas petani Dogon dan penggembala Peul kerap memicu konflik.
Serangan terbaru ini menunjukkan kemampuan kelompok jihadis untuk menyerang lokasi-lokasi strategis di sekitar Bamako. Meskipun demikian, wilayah pedesaan di Mali masih jauh dari kendali penuh aparat keamanan. Serangan ini menambah beban bagi pemerintah militer Mali, yang telah meminta pasukan perdamaian PBB untuk angkat kaki dari negara itu.
Baca Juga :Pilkada Gubernur Kaltara 2024: Tiga Paslon Siap Bertarung!
Situasi keamanan di Afrika Barat kian rapuh. Selain Mali, negara tetangga seperti Burkina Faso dan Niger juga mengalami serangan serupa. Militan kini bahkan menjangkau wilayah utara Benin, Togo, dan Pantai Gading. Meski demikian, pemerintah Mali justru berfokus pada kampanye militer di utara untuk merebut kembali kota-kota yang sebelumnya di kuasai separatis Tuareg.
Di tengah kekacauan ini, serangan di Bamako malah bisa meningkatkan sentimen nasionalisme. Sayangnya, hal ini berisiko memperdalam ketidakpercayaan antaretnis, terutama terhadap komunitas Peul yang kerap di tuduh bersekongkol dengan jihadis. Beredar pula video warga yang menangkap dan mengeksekusi tersangka secara brutal di jalanan.
Mali kini membutuhkan kedamaian dan stabilitas lebih dari sebelumnya. Namun, dengan situasi yang terus memburuk, harapan untuk mencapai hal itu masih jauh dari kenyataan.
Untuk info terbaru, kunjungi portalwarta.com. Bagi Anda yang membutuhkan jasa pembuatan website terpercaya, silakan kunjungi Digi Dingo.